Jumat, 07 Oktober 2011

PERLU DIPERHATIKAN

Dalam kehidupan, manusia selalu mengalami pasang-surut permasalahan dalam menjalani kehidupan ini. Sejak dari lahir manusia sudah membawa masalah baik diri sendiri maupun kepada orang lain. bayangkan saudaraku,...kita lahir sudah merepotkan beberapa orang, diantaranya :
  1. Ibu kandung, yang melahirkan, mengalami sakit yang tiada terperi (ceilee...syair nich...) bahkan bisa membawa kepada kematian. Ibu sudah diberi masalah oleh kita yang baru lahir.
  2. Ayah, yang harus menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kelahiran kita.
  3. Bidan, Perawat, atau Dukun Bayi (bagi yang masih di pedesaan) yang menerima kita pertama kali (biasanya sang ayah ngeriii.....he....he...he....)
  4. Tetangga, yang direpotkan untuk kunjungan (tilik bayi) melihat kita yang masih merah, yang berdalih demi kemasyarakatan.
  5. Masih ditambah lagi ada acara selamatan, sepasar, selapanan, akikah, dan lainnya.
  6. Pada saat umur sekolah, kita masih merepotkan orangtua lagi dengan biaya-biaya yang mahal dan merepotkan guru-guru yang kadang kita sulit diatur.
  7. Tambah lagi kalau kita sudah remaja bahkan kadang-kadang lebih sulit diatur lagi.
  8. Kawin, merepotkan banyak orang dengan berbagai macam masalah.
  9. Saat meninggal masih merepotkan banyak orang.
Oleh karena itu, hai saudaraku.... patutkah kita masih merepotkan orang-orang yang tersebut dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah Agama yang jelas sangat mengganggu orang-orang di sekitar kita ?. Sadarlah hai saudaraku, mari kita bersama-sama meminimalisasi perbuatan yang sangat merugikan orang lain.  Dengan kata lain agamalah yang mengontrol perilaku kita sehingga kita dapat menjalani hidup ini dengan tenang dan tentram serta meninggalkan dunia ini dengan membawa nama yang harum dan dapat dikenang sepanjang masa.
Minat terhadap agama pada saat ini, boleh dikata semakin kuat seiring sejalan dengan meningkatnya maksiat yang semakin merajalela dan terang-terangan. Kuat lemahnya minat terhadap keagamaan amat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain : 
  1. Ada tidaknya pembiasaan sebagai pengaruh pendidikan keagamaan sejak masa kanak-kanak, yang dapat mempolakan perilaku praktek keagamaan dalam masa dewasa.
  2. Ada tidaknya praktek keagamaan dalam lingkungan sekitar terutama teman pergaulannya. Jika tetangga dan sahabat banyak yang aktif beribadah, maka sangat mungkin akan kuat pula minatnya dalam praktek agama.
  3. Kuat lemahnya persoalan yang dihadapi seseorang. Manusia pada hakekatnya mengetahui bahwa, ada sesuatu kekuatan yang tertinggi yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan hidup.
  4. Ada tidaknya tanggung jawab terhadap pendidikan agama terhadap anak-anak (sehubungan dengan kedudukan sebagai orang tua dan pemerintah). Jika orang tua atau pemerintah mempunyai tanggung jawab kuat terhadap pendidikan agama bagi anak-anak usia sekolah dasar, maka cenderung punya minat kuat pada agama dan aktif beribadah untuk memberikan suri tauladan. Dalam hal ini orang tua sebagai pendorong motivasi mental dan spiritual. Kemudian pemerintah menyediakan anggaran dan sarana prasarana yang berlebih dalam melaksanakan program pendidikan keagamaan di negara ini.
Masyarakat bermental agama kuat, iman kuat, sehingga negara dengan unsur masyarakatnya yang bermental agama yang kuat akan merupakan benteng kokoh dalam mempertahankan negara kita yang kita cintai ini. Korupsi, manipulasi, pungli tidak akan terjadi di NKRI yang tercinta ini. Merdeka......oke.....YEESSSS....!